Bogor, 10 April 2026 – Dalam upaya mendalami keterkaitan kompleks antara kesehatan manusia, hewan, tanaman, dan lingkungan, sebuah forum internasional berjudul Global One Health Symposium 2026 diselenggarakan oleh One Health Student Club IPB University, bersama One Health Initiative, University of Tennessee secara daring melalui platform Zoom. Simposium ini mempertemukan para ahli, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai penjuru wilayah Asia untuk mendiskusikan tantangan serta solusi terintegrasi dalam kerangka One Health.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Dr. Ashley Morgan, selaku Perwakilan dari University of Tennessee, serta Dr. Deb Miller selaku Director of the One Health Institute, University of Tennessee. Turut memberikan sambutan Prof. Srihadi Agungpriyono dari Global Health Agromaritime and One Health Collaborating Center (GHA-OHCC) IPB University, yang menekankan pentingnya dialog antardisiplin untuk menghadapi tantangan kesehatan global saat ini.
Simposium ini menghadirkan tiga pakar utama yang memaparkan hasil penelitian dan implementasi strategi One Health di lapangan:
- Dr. Mohd Hanif Jainlabdin (Assistant Professor, Institute of Planetary Survival for Sustainable Well-being International Islamic University Malaysia) memaparkan topik terkait mikroba lingkungan dan Resistensi Antimikroba (AMR) di Malaysia. Beliau menekankan bahwa penyakit infeksi seringkali berawal dari lingkungan. Beliau juga menekankan pentingnya transisi dari metode kultur secara tradisional ke teknologi genomik guna deteksi patogen yang lebih cepat dan komprehensif.
- Manon Mispiratceguy (Regional Coordinator for Asia and the Pacific – Sustainable Wilfdlife Management Programme, Food and Agricultural Organization (FAO) membahas upaya menciptakan skenario saling menguntungkan bagi satwa liar, kesehatan, dan mata pencaharian pedesaan. Beliau menyoroti pendekatan “Forest to Fork” dalam mengelola rantai nilai daging satwa liar secara aman dan berkelanjutan di tengah tantangan degradasi habitat dan perubahan iklim.
- Bhavesh Jain (Consultant, Health System and Financing, World Bank) menyampaikan materi mengenai kesiapsiagaan dan perencanaan pandemi di Timor-Leste. Beliau mengidentifikasi kerentanan sistem kesehatan terhadap risiko iklim dan pentingnya penguatan tata kelola One Health yang terintegrasi di tingkat nasional maupun lokal.
Selain sesi panel, simposium ini menyelenggarakan lima kelompok diskusi interaktif (breakout groups) yang fokus pada topik terapan, yaitu: Antimicrobial Resistance (AMR), Wildlife and Environmental Conservation, Translational Medicine, Indigenous Perspectives, dan Student Organizations. Sesi ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk bertukar ide, berbagi praktik terbaik, dan merintis peluang kolaborasi di masa depan.
Acara ini ditutup dengan harapan agar forum global ini dapat memberikan inspirasi dan memperkuat koneksi antar pemangku kepentingan untuk memajukan solusi terintegrasi demi tercapainya kesehatan global yang lebih baik. Simposium ini menjadi langkah nyata dalam mempromosikan kepemimpinan mahasiswa dan memperlihatkan kekuatan pendekatan One Health dalam menyelesaikan masalah kesehatan lintas sektor.